Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Berebut Melayani Dan Jangan Membeli Kucing Dalam Karung

Berebut Melayani Dan Jangan Membeli Kucing Dalam Karung

Berebut menunjukkan sebuah keadaan dimana antara ketersediaan dan permintaan, lebih banyak permintaannya dibanding ketersediaannya. Banyaknya permintaan itu dikarenakan barang yang tersedia dianggap sesuatu yang berharga, barang yang baik dan kualitasnya juga baik, atau barang yang langkah dan apapun yang menunjukkan keunikan dan kebaikan barang tersebut. Sehingga siapapun yang mampu merebut barang tersebut diharapkan adalah mereka yang betul betul membutuhkan dan sekaligus bisa merawatnya.

Melayani adalah sebuah aktifitas yang dilakukan untuk kebahagiaan orang lain. Melayani merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mereka yang bisa memberikan layanan. Melayani biasanya dilakukan oleh mereka yang lemah terhadap yang kuat, yang mengabdi terhadap yang kuasa. Melayani juga dilakukan oleh mereka merasa terpanggil untuk menguatkan yang lemah agar menjadi berdaya. Melayani sejatinya lebih banyak dilakukan atas panggilan jiwa, sehingga sejatinya didalam aktifitas melayani ada kekuatan dan keikhlasan untuk membahagiakan orang lain. Apapun latar belakang aktifitas melayani, maka melayani hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kemauan memberikan yang terbaik terhadap yang dilayani.

Kemarin, selasa ( 17 Juli 2018 ) merupakan batas akhir kita menyaksikan mereka mereka yang ” terpanggil ” jiwanya untuk melayani rakyat, mendaftarkan dirinya menjadi pelayan rakyat. Mengapa terpanggil saya beri penekanan, karena motifasi terpanggilnya seseorang mendaftar menjadi pelayan rakyat melalui partai politiknya berbeda satu sama lain. Ada yang terpanggil karena kemauan untuk melayani rakyat karena dirasa selama ini rakyat diabaikan, atau ada yang terpanggil karena dianggap dengan cara ini bisa melayani sambil mengeruk keuntungan dari kekuasaan yang direbut.

Pendaftaran para calon anggota DPR dan DPRD serta calon kepala daerah merupakan sebuah fonomena tentang perebutan kesempatan untuk melayani. Tentu saja mereka yang berebut melayani adalah mereka yang dianggap sebagai orang yang mempunyai kemampuan melayani, baik itu kemampuan secara ilmu maupun kemampuan secara sosial. Mereka tentu saja orang orang yang sudah mempunyai persiapan dan kemampuan mengukur diri untuk bisa melayani.
Menentukan Siapa Yang Bisa Melayani

Rakyat dalam kontestasi perebutan melayani berada pada posisi menentukan siapa yang boleh melayani. Artinya rakyat punya kuasa menentukan kriteria pelayannya. Sehingga rakyat bisa melihat jejak rekam calon pelayannya. Modal kemampuan seperti apa serta modal sosial yang bagaimana yang dimiliki. Catatan rekam jejak itu penting, agar kita bisa menentukan kelayakan seseorang untuk tugas pelayanan ini.

Anda bisa bayangkan bagaimana seseorang bisa melayani orang lain kalau dalam kesehariannya anda lihat kerjaannya hanya menyakiti masyarakat, menipu , tengkar atau yang dilakukan selama ini merupakan sesuatu yang tidak berkorelasi dengan tugas pelayanan yang dilakukan. Anda juga bisa bayangkan bagaimana tugas pelayanan bisa dilakukan kalau mereka yang berebut melayani itu tak pernah mengurusi layanan terhadap orang lain. Ibaratnya bagaimana seorang bisa memberikan tugas layanan yang baik kalau mereka tak pernah berbuat baik.

Pendaftaran para calon anggota DPR dan DPRD sudah dimulai dan partai politik sudah mengirimkan orang orang ” terbaiknya “, tentu sabagai rakyat yang akan dilayani, kita punya catatan catatan penting siapa yang layak dan siapa yang tidak. Kita juga tak ingin mengulang pengalaman lima tahun yang lalu, tugas pelayanan berubah menjadi tugas kekuasaan, menjarah uang rakyat, dan rakyat juga tak terurus. Hidup semakin terhimpit, wakil rakyat kerjanya lebih banyak membuat gaduh dan berebut plesiran dengan alasan kunjungan kerja. Memang tak semua, tapi ibarat peribahasa nila setitik merusak susu sebelangah.

Kisah tugas layanan yang tak amanah jauh jauh hari sudah diingatkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW, tentang suatu urusan yang diserahkan kepada mereka yang bukan ahlinya, kelak kerusakan yang akan terjadi. Karena kita sebagai rakyat punya kuasa memilih, maka kita juga berharap kepada partai politik agar bertanggung jawab memilihkan calon pelayan yang baik dan berjiwa melayani, bukan mereka yang haus kekuasaan dan hanya memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompok. Saatnya partai politikpun bertanggung jawab mengirimkan para orang terbaiknya yang terpanggil dan berjiwa melayani, tentu juga dengan kualitas yang mumpuni.

Akhirnya saya sebagai rakyat hanya bisa berharap dan berdoa agar saya diberi kekuatan menyusun jejak rekam dan menyajikan kepada masyarakat, siapa yang layak dan tidak untuk kita beri amanah melayani kita semua. Janganlah membeli kucing dalam karung, bisa jadi karungnya saja kelihatan bagus, tapi isinya belum tentu berkualitas. Bagi saya potret tawuran bacaleg pada saat pendaftaran di KPU pusat kemarin, menunjukkan betapa memprihatinkannya kualitas mereka, bayangkan belum jadi wakil rakyat, sudah merasa sok kuasa, apalagi kalau sudah memegang kekuasaan. Partai politik janganlah dipermalukan oleh kualitas calon wakil rakyatnya yang tidak bermutu.

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat beraltifitas, semoga berkah semua. Aamien.
Surabaya, 18 Juli 2018
M. Isa Ansori
Staf pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top