Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Beragama Tanpa Tuhan

Beragama Tanpa Tuhan

Cahayapena -Kala itu 1999, tiba-tiba di kegelapan malam berubah menjadi kegaduhan dan kesedihan,  beberapa ustadz dan guru ngaji diserang oleh orang tak dikenal,  beberapa diantara mereka gugur sebagai syuhada. Mereka diteror di gelapnya malam dan pada saat mereka sedang bercengkrama dengan Tuhannya.

Tentu saja teror ini menjadikan para santri dan ustadz serta para ulama dan kyai yang lain harus waspada tingkat tinggi. Para ulama dan kyai beserta para santrinya berjaga siang malam,  mencari tahu siapa sebenarnya pelakunya?  Malam itu tak elak seorang kyai yang sedang mengambil air wudhu diserang, untungnya pelakunya bisa dideteksi dan diserang balik, pelaku diserang dan dilumpuhkan, diserahkan kepada pihak yang berwajib,  dan dideteksi pelaku mengalami penyakit kegilaan. Wabah orang gila dan kegilaan mewarnai bumi Banyuwangi dan sekitarnya. Umat Islam dilanda keresahan dan kekhawatiran atas serangan wabah orang gila.

2018, nampaknya lakon itu bersemi kembali, seperti lakon Gita Cinta Dari SMA, lalu Ayat-Ayat Cinta dan Dilan. Skenarionya sama, inti ceritanya sama dan hanya pelakunya saja yang berbeda.

Garut, menjadi tlatah lain yang dijamah, tiba-tiba wabah orang gila merambah, setelah sekian kali para ulama dan kyai disatroni dan kemudian direngut nyawanya. Lagi-lagi pelakunya katanya orang gila. Kewaspadaan tinggi itulah yang kemudian menjadikan para santri dan kyai serta ulama, mencurigai orang yang tak dikenal yang ada, ketika ditangkap dan diinterogasi, jadilah dia orang  gila. Kasian mereka yang gila benar, karena dipermainkan oleh mereka yang pura-pura gila dan gila-gila yang lainnya.

Di Jogja agak berbeda, yang diserang bukan ulama dan kyai, tetapi seorang pendeta yang sedang berkhotbah, lagi-lagi skenario yang dibangun, penyerangnya mensimbolkan kelompok beragama tertentu. Gilakah pelakunya? Belum ada keterangan resmi sampai saat ini. Hanya Syafii Ma’arif yang menyatakan penyesalannya.

Kasus Sampang terenggutnya nyawa seorang guru yang sedang mengajarkan ilmunya, juga potret kegilaan, betapa tidak Bumi Sampang yang dikenal religius dan hormat terhadap ulama dan guru,  bisa-bisanya seorang murid melakukan pemukulan yang berakibat gugurnya guru Budi.

Banyuwangi, Garut, dan Sampang serta Yogyakarta sampai saat ini adalah hamparan bumi yang menghibahkan dirinya untuk Indonesia. Lalu siapakah Indonesia itu?  Kata Bung Karno, Indonesia adalah negara yang tersusun dari Pancasila, Sila Pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau diperas lagi akan menjadi Trisila dan kalau mau diperas lagi, maka akan menjadi Ekasila,  yaitu gotong royong yang didalamnya ada dijiwai oleh semangat Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah Mufakat serta Keadilan.

Soekarno tahu betul bagaimana membangun Indonesia, sehingga atas dasar penjiwaan Piagam Jakarta, maka dirumuskanlah Pancasila.

Tuhan menjadi jiwa berbangsa dan bernegara kita sebagai Indonesia. Kepada Tuhanlah seluruh perilaku bernegara kita disandarkan.

Soekarno dan perumus bangsa ini memang sudah wafat mendahului kita, tapi apakah semangatnya masih membekas sebagai sebuah bangsa. Tuhan sudah tak ada… Betapa kita saksikan di ruang-ruang publik, pejabat tak malu bercitra dengan kebaikannya, tapi ternyata korupsi juga tak pernah reda.

Syariat agamapun dibedakan, kita menolak perda syariat yang berkaitan dengan perilaku, tapi berkaitan dengan duit umat bersyariat, kita tak menolak, dimana rasa keadilan kita, Tuhan telah tiada.

Ulama dan kyai dicederai, pendeta dicerca, aparat tak berdaya, hukum tak kuasa merangkum,  gila menjadi kata terakhir ketakberdayaan dan berakhir dengan nyiyir. Tuhanpun kita tiadakan.

Tuhan, Engkau ajarkan sikap kasih sayang,  tapi kami lebih suka permusuhan.

Tuhan, Engkau ajarkan kami kejujuran, tapi kami lebih menikmati kebohongan dan fitnah.

Engkau ajarkan kami tentang keadilan, tapi kami lebih suka persamaan dan hak asasi yang termanipulasi.

Dalam hal memilih pemimpinpun. Kita bermanipulasi bahwa kebaikan tak sepenuhnya berasal dari agama,  maka jangan pilih pemimpin hanya karena agama. Ah mereka telah mengusir Tuhan dari ruangnya.

Keyakinan akan hari pembalasanpun dilecehkan. “Wahai rakyatku, jangankah kalian percaya kepada kaum ilusionis masa depan, mereka cerita kehidupan setelah mati, seolah mereka pernah mengalami”, begitulah serapah pemimpin negeri, Tuhan Engkau telah dibaikan.

Tuhan, Engkau larang korupsi,  tapi kami menikmati,

Kami bawa lari uang negeri, kami buat pesta untuk merubah filosofi

Kami ajak sahabat asing, untuk menjarah dan mengubah konstitusi

Tuhan kami muak. Engkaulah yang selalu menghalangi kami menjarah negeri ini

Pergilah Tuhan, melalui perubahan konstitusi

Tuhan….Masihkah Engkau ada di ruanganku yang bernama Indonesia? Kelompok beragama saling menghujat dan memfitnah, bahkan perilaku mereka pun sudah jauh dari sifat welas asih Mu. Masih adakah Engkau Tuhan di ruang-ruang para wakil rakyat? Masih adakah Engkau di ruang para pejabat dan aparat?  Tuhan… Engkau hanya ada di saat Indonesia berduka dan ketika rakyat susah.

Betapa Engkau disebut berkali-kali ketika Engkau bunyikan alarm tsunami, banjir, longsor,  kecelakaan laut, udara dan sederet kedukaaan yang ada.

Kejujuran dinistakan,

Dusta dipuja,

Pancasila berduka, sila Ketuhanan Yang Maha Esa hanya serasa…

Selamat tinggal Tuhan

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri ”. (Q. S. At-Taubah: 70). (*)

 

 

Sumber : suaramuslim.net

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top